Rabu, 06 Januari 2010

9. DS. BIEGER, UTUSAN N.G.Z.V. DAN MASALAH GEREJA-GEREJA DI BAWAH PIMPINAN SADRACH.

Dari laporan Ds. Vermeer, N.G.Z.V. memandang perlu mengutus utusannya untuk bekerja di daerah Bagelen. Dua tahun kemudian setelah meninggalnya Ny. Philips, pada tahun 1878, diutuslah Ds. Bieger ke daerah ini. Sebelum ia melakukan pekerjaannya, untuk sementara ia di Tegal.
Mula-mula ia bertempat tinggal di Kutoarjo. Pada waktu ia datang ke daerah itu, kedudukan Sadrach sudah cukup kuat sebagai pemimpin orang-orang Kristen Jawa Merdeka.
Tujuan Ds. Bieger yang pertama ialah mengadakan pembicaraan dengan Sadrach tentang pimpinan orang-orang Kristen Jawa, dan menghendaki supaya Sadrach menyerahkan pimpinan itu kepada Ds. Bieger. Sungguh aneh dan mengherankan, apalagi bagi Sadrach hal ini tidak bisa dimengerti. Apakah tugas seorang pendeta Zending itu memang demikian ? Apakah Ds. Bieger tidak mengerti bahwa Sadrach dan kelompok-kelompoknya tak ada sangkut pautnya dengan gereja Negara maupun N.G.Z.V. ? Memang dulu Ds. Vermeer telah membaptiskan orang-orang yang di bawa oleh Sadrach, tetapi menurut anggapan Sadrach, hal itu bukan berarti bahwa mereka itu menjadi anggota gereja Negara atau N.G.Z.V. Dan pula usaha Ds. Vermeer dimana gereja-gereja di daerah Bagelen termasuk Karangjoso diakui sah sebagai anggota N.G.Z.V., hal ini sebenarnya oleh Sadrach dianggap sebagai bantuan yang diperlukan untuk kebutuhan gereja, dan bukan untuk menguasainya.
Sadrach sendiri tak mengerti sebenarnya status gereja Negara, N.G.Z.V dengan kelompoknya sendiri. Tetapi jelas menurut pandangan Sadrach, bahwa adanya kelompok-kelompok dan perkembangan jemaat-jemaat di daerah Karangjoso adalah hasil jerih payah Sadrach dan kawan-kawannya. Dan Sadrach telah diakui sah sebagai pimpinan mereka. Andaikata Sadrach menanyakan kepada murid-muridnya tentang maksud Bieger itu, tentu mereka akan menolaknya. Bieger adalah orang asing yang begitu datang terus minta kedudukan. Ini sukar diterima oleh Sadrach.
Usaha Bieger selanjutnya adalah mendekati Abisai. Dengan mudah daerah kerja Abisai diserahkan kepada N.G.Z.V. atau tangan Bieger. Dalam hal ini, pendirian Abisai jauh berbeda dengan Sadrach. Dia tetap mengakui bahwa daerah kerjanya menjadi anggota N.G.Z.V hingga pernyataan Bieger hal penyerahan itu bukanlah menjadi soal Ilahi dan pada saat itu jemaat di Purworejo sedang dalam keadaan parah. Pada saat itu Abisai dijadikan pembantu Bieger dengan gaji tigapuluh gulden. Menurut anggapan Bieger, Sadrach harus dapat ia kuasai seperti Abisai. Ia harus sekali lagi mengadakan pertemuan dengan Sadrach untuk maksud itu, tetapi Sadrach tetap pada pendiriannya tak mau menyerah.
Persoalan ini sedikitnya dalam waktu tiga puluh lima hari sudah tersebar di seluruh pelosok kelompok. Baik tiap murid Sadrach maupun jemaat-jemaat di wilayah Sadrach mengetahui persoalan ini. Ternyata aturan yang ditetapkan Sadrach memang tepat. Murid-muridnya mengerti kehendak gurunya dan gurunya-pun mengerti kesetiaan murid-muridnya. Ini menyebabkan pendirian Sadrach tetap teguh.
Pada suatu hari Sadrach menerima surat panggilan dari pembesar setempat, yaitu Bupati Kutoarjo dan Asisten Residen. Ia diminta keterangannya tentang bagaimana sikapnya terhadap permintaan Bieger. Sadrach menjawab bahwa ia tetap pada pendiriannya. Sejak itu Sadrach mengerti bahwa Bieger dalam usahanya untuk menguasainya telah memakai alat Negara.
Sadrach telah menerima juga peraturan-peraturan Gereja tertulis dari Bieger, tetapi peraturan-peraturan yang diberikan itu oleh Sadrach ditolak. Menurut anggapan Sadrach peraturan-peraturan itu tak dapat dijalankan karena terlalu sukar dimengerti oleh jemaat. Pokok utama, bukannya dengan dasar Kitab Suci atau pelajaran-pelajaran agama, tetapi cukuplah dengan berbagai cara lain asal orang mau bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Juruselamat Yesus Kristus, maka Sadrach tetap tidak mau tunduk pada peraturan-peraturan yang diberikan.
Bieger berusaha dengan berbagai macam jalan, supaya Sadrach mau menerima peraturan-peraturan gereja itu. Sadrach tidak menghendaki kalau N.G.Z.V. turut campur urusan jemaat-jemaat sekitar Karangjoso.
Ketika Bieger pindah ke Purworejo dan bertempat tinggal di kampung Plaosan, ia mengadakan hubungan dengan Residen Ligvoet yang berkedudukan di Purworejo, setelah didengar keterangan-keterangan maka Ligvoet menaruh curiga atas tindakan Sadrach, dikuatirkan kalau Sadrach mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah. Dengan demikian maka diutus beberapa anggota polisi untuk mengamat-amati segala gerak-gerik Sadrach. Tetapi suatupun tiada terdapat kesalahan yang melanggar hukum pemerintah. Sedang para petugas pemerintah itupun dapat pula memuji dan menganggap pimpinan Sadrach itu baik. Karena tiada suatu kejahatan yang terdapat, maka Sadrach tak mungkin ditangkap tanpa alasan.
Dalam tahun 1882 wabah penyakit cacar menjalar di daerah Bagelen, hingga penduduk yang berada di daerah itu oleh Pemerintah diharuskan mencacarkan diri. Jawatan Kesehatan mengirim para mantri cacar ke pelosok-pelosok desa untuk mengadakan pencacaran penduduk.
Karena pencacaran itu dilakukan dengan cara paksa, maka Sadrach tidak setuju cara yang dilakukan itu. Pengaruh Sadrach di daerah itu amat besar, hingga di daerah itu terdapat hanya sedikit saja yang telah mencacarkan diri, dengan demikian menjadi keheranan bagi para mantri cacar tersebut. Setelah diselidiki dan diperoleh keterangan dari beberapa orang, disebabkan pengaruh Sadrach. Dengan alasan-alasan itu cukup sebagai bukti untuk menangkap Sadrach. Kemudian Residen mengirim beberapa anggota polisi buat menangkap Sadrach. Peristiwa penangkapan itu terjadi pada bulan Maret 1882 yang cukup mengejutkan, Sadrach ditangkap dan dimasukkan dalam Penjara atas perintah Residen Ligvoet. Penangkanan itu diberitahukan juga kepada Ds. Heyting, pendeta dari Gereja Negara, dengan alasan penangkapan soal cacar. Bahwa menurut laporan-laporan yang diperoleh, Sadrach tidak memperbolehkan orang-orangnya dicacar. Alasan-asalan itu sebenarnya salah.
Residen ligvoet dengan beberapa anggota polisi datang di tempat kediaman Sadrach dengan maksud akan mencari dokumen-dokumen yang bertujuan akan memberontak kepada Negara. Penggeledahan telah dilakukan dengan keras, tetapi sia-sialah. Karena ternyata tidak mendapatkan suatu bukti yang bermaksud jahat. Yang diketemukan adalah sebuah tombak kecil, yaitu satu-satunya senjata Sadrach yang diperuntukkan membela diri jika ada pencuri atau perampok. Pada saat penggeledahan, hadir juga beberapa murid-murid Sadrach, misalnya Markus, Yohanes dan lain-lain lagi. Setelah Residen mendapat banyak keterangan dari Debora, istri Sadrach, para penggeledah kemudian meninggalkan tempat itu. Untuk beberapa saat Pemerintah menutup Gereja di Karangjoso sejak peristiwa penggeledahan itu. Tapi Yohanes tetap memimpin Kebaktian pada hari Minggu, seolah-olah tidak mempedulikan larangan itu. Karena itu Yohanes ditangkap dan dihadapkan kepengadilan di Purworejo. Dalam perkara itu Residen sendiri yang menjadi hakim pengadilan, disitu hadir juga Bieger. Putusan terakhir diserahkan kepada Bieger. Yohanes diperbolehkan mengajar asal menurut peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan. Kemudian ia diperkenankan pulang. Yohanes menyatakan sanggup dan bersedia melakukan keputusan tersebut.
Sementara Sadrach ditahan dipenjara, pada tanggal 15 Maret 1882 ada pertemuan besar dari kelompok-kelompok Sadrach. Pertemuan ini diadakan atas undangan (pangggilan) Residen Ligvoet. Mereka datang dengan rasa takut, sebab gurunya tidak ada, mereka kuatir akan mengalami nasib yang sama seperti gurunya. Pertemuan itu dihadiri oleh ketua-ketua kelompok dari Bagelen dan Banyumas, dan dari pihak Pemerintah hadir Residen, Bupati Kutoarjo, Kepala Jaksa Purworejo. Jaksa Kutoarjo, Assisten Residen Kutoarjo, dan dari pihak Gereja, hadir Ds. Heyting, pendeta gereja Negara dan Ds. Bieger. Dalam pertemuan itu diumumkan bahwa Sadrach diberhentikan dari kedudukannya sebagai pemimpin mereka dan diasingkan dari Karangjoso, sebagai gantinya yaitu Ds. Bieger. Peristiwa ini terkenal diantara murid-murid Sadrach dengan nama “peristiwa Jum’at Wage” yang tak terlupakan dimana mereka kehilangan gurunya.
Para pejabat pulang, Bieger tinggal bersama mereka. Sudah menjadi kebiasaan menurut pandangan orang Jawa, jika ada orang kena kecelakaan dianggap sebagai hukuman Tuhan (bahasa Jawa : Kena dendaning Pangeran). Apakah peristiwa yang menimpa diri Sadrach juga dipandang demikian ?
Muris-murid Sadrach memandang peristiwa ini bukan sebagai persoalan kedudukan gurunya, tetapi hanya soal cacar saja. Dalam hati mereka, Sadrach tetap sebagai gurunya, walaupun Bieger sudah ditetapkan sebagai pendeta mereka. Demikian Bieger mendapat kedudukan. Kedudukan ini diberi oleh Residen. Inilah jabatan dalam urusan kegerejaan, tapi anehnya Bieger juga menerima dengan senang hati, tanpa memikirkan nasib penderitaan orang lain, misalnya Jemaat-jemaat Sadrach yang kehilangan gurunya yang sangat dicintanya. Bukan pelayanan, melainkan kedudukan yang dikejar oleh Bieger sebagai pendeta utusan. Bagi orang Kristen Jawa yang belum mengerti peraturan-peraturan gereja, mendapat kesan bahwa begitulah cara orang Belanda mengatur gereja. Mereka menerima petunjuk dan ajaran dari Bieger dalam suasana hati yang masih kacau.
Peristiwa tersebut jika ditinjau dari etika orang Jawa menunjukkan bahwa utusan N.G.Z.V. datang di Bagelen untuk menduduki tikar yang sudah terhampar (bahasa Jawa : nglungguhi klasa gumelar), sedang yang menganyam tikar itu ialah Sadrach.
Lain halnya dengan Ds, Jellesma di Mojowarno. Telah nampak bahwa Ds. Jellesma lebih bertindak sebagai pelayan dari pada penguasa terhadap Paulus Tosari.
Pada tanggal 23 Maret 1882 diadakan pertemuan lagi. Kali ini diadakan di gedung Pemerintah Kutoarjo. Hadir duaratus orang. Pertemuan ini tidak hanya dihadiri ketua-ketua kelompok, tetapi juga murid-murid lain. Pertemuan itu bagi mereka suatu tanda tanya : mungkin pihak penguasa akan memperlakukan mereka seperti perlakuan terhadap gurunya. Tetapi tidak demikian. Di sini mereka berkumpul kebaktian bersama dibawah pimpinan Bieger dengan renungan. Sesudah makan bersama, lalu diumumkan oleh Residen Ligvoet bahwa mulai saat itu, guru mereka Sadrach tak diperkenankan memberi ajaran apa-apa dan ia harus berada di Purworejo di rumah Bieger dengan dijaga oleh polisi. Memang itulah atas permintaan Bieger, supaya Sadrach tetap ditahan di rumahnya setelah ia melakukan peninjauan ke gereja-gereja di wilayah Bagelen dan daerah Pekalongan dan Tegal bagian baratdaya, karena disanalah terdapat banyak orang-orang Kristen yang berasal dari ajaran Sadrach.
Dalam kumpulan itu Sadrach menyatakan kesanggupannya. Dengan demikian Sadrach direndahkan dan dipermalukan. Nampaknya Sadrach mendapat keringanan sebab telah dikeluarkan dari penjara, tetapi sebenarnya hal itu dimaksudkan sebagai penghinaan didepan pengikut-pengikutnya, meruntuhkan kewibawaan Sadrach.
Di rumah Bieger, Sadrach seharusnya mengalami suasana yang tenang, sebab di rumah pendeta, bukan penjara. Tiap hari makan bersama, bicara-bicara soal kerohanian, baca Alkitab bersama dan saling memberi tuntunan, kalau demikian keadaannya, tentu besar sekali manfaatnya bagi Sadrach. Adapun maksud Bieger yaitu supaya Sadrach dapat menyadari segala tindakan yang salah dalam memberi ajaran-ajaran agama Kristen. Tindakan Bieger meskipun baik atau jelek, oleh Sadrach ditelan dengan sabar dan tenang. Segala nasehatnya diterima dengan baik. Hanya satu yang paling tidak disukai oleh Sadrach, yaitu cara tindakan diktator Bieger, yang sebenarnya tidak patut dilakukan oleh seorang pendeta. Sadrach mengetahui bahwa tindakan Bieger itu sebetulnya mempunyai tujuan dan maksud baik, tetapi belum saatnya dan tidak cocok untuk ditindakkan kepada orang-orang Jawa di desa-desa yang pengetahuannya masih jauh berbeda dibandingkan orang-orang Kristen di kota-kota besar atau di negeri Belanda. Pula Bieger tidak dapat menyelami apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh orang-orang Jawa yang mempunyai latar belakang yang sangat lain, baik dilihat dari kepercayaan Kristen maupun kebudayaan Belanda. Ia tak dapat menyesuaikan diri dengan orang-orang Jawa terutama di pelosok-pelosok desa.
(disalin dari Rewriting by Pdt.Immanuel Adi Saputro GKJ Sabda Winedhar)
http://gkjsabdawinedhar.blogspot.com/2009/02/kyai-sadrach.html